Peringatan keras diberikan kepada para pejabat terkait penanganan bencana menyusul gempa 7,6 skala richter (SR) di Sumbar. Para pejabat harus mengutamakan kecepatan dan bertindak serius. Pejabat tidak boleh tertawa-tawa saat menangani bencana.
“Ada petugas yang (saat gempa Jabar) ketawa-ketawa saat masuk CNN. Kalau itu dilihat dunia, katanya ada musibah, katanya mengubur jenazah, kok pada ketawa-ketawa,” kata SBY saat berkunjung di Balaikota Pariaman, Sumatera Barat, Jumat (2/10/2009).
SBY meminta semua pihak mengutamakan kecepatan dalam tanggap darurat penanganan bencana. Bukan hanya untuk perusahaan, namun juga para pemimpin, dari tingkat pusat maupun daerah harus bertindak cepat.
“Kecepatan harus diutamakan. Saya hitungannya jam. Kalau bisa 1 atau 2 jam jangan tunggu 1 atau 2 hari. Oleh karena itu saya tidak suka pemimpin dalam keadaan begini duduk di belakang meja. Siapapun, bukan hanya Bupati atau Walikota, tapi juga para petugas,” tegas SBY.
Pada kesempatan itu, SBY juga mengungkapkan kekesalannya pada jabat yang mencari selamat terlebih dulu saat gempa dan pejabat yang menganggap enteng masalah.
“Saya tidak suka kalau ada pejabat pemerintah menggampangkan. Ah biasa saja kok. Tidak. Selalu ada pelajaran baru yang bisa kita ambil. Hanya dengan cara begitu kita bisa bertugas,” tukas dia.
Tak lupa, SBY pun meminta masyarakat agar tidak menjadikan lokasi bencana sebagai tempat wisata, yang ujung-ujungnya malah merepotkan evakuasi. Pers pun diminta empatinya, agar malah tidak menghalangi proses evakuasi korban
“Bukannya tidak boleh meliput, tapi bikinlah jarak. Petugas jangan malas dan ragu untuk buat pengumuman di tempat yang banyak massa. Ada megafon, bisa teriak tolong Bapak-Ibu jangan masuk ke tempat ini, ada pasien yang kakinya diamputasi. Setiap jiwa penting untuk diselamatkan kecuali Allah menentukan lain,” tandas SBY.
Sumber : Detik.com